Cara Budidaya Pisang Tanduk

Kali ini saya akan menerangkan beberapa teknik budidaya pisang tanduk atau yang biasa dikenal dengan pisang gebyar. Syarat untuk tumbuh pohon pisang tanduk ini dapat tumbuh di daerah tropis sesuai yang ada di indonesia ini, baik dataran rendah maupun dataran tinggi dengan ketinggian tidak lebih dari 1600 m di atas permukaan laut. suhu optimum untuk pertumbuhan adalah 27 derajat celcius dan suhu maksimumnya 38 derajat celcius dengan keasaman tanah ph 4,5 – 7,5 curah hujan yang optimum. untuk pertumbuhan tanaman pisang berkisar antara 2000 – 2500 mm / tahun atau paling baik 100 mm per bulan. apabila suatu daerah mempunyai bulan kering melebihi 3 bulan maka tanaman pisang memerlukan tambahan pengairan agar dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik. Iklim yang cocok untuk tanaman pohon pisang tanduk ini berada di iklim tropis basah lembab dan panas mendukung pertumbuhan pisang. namun demikian pisang Tanduk masih dapat tumbuh di daerah subtropis, dengan kecepatan angin yang tidak terlalu tinggi dan curah hujan optimal.
Untuk media tanam sebaiknya pisang ditanam di tanah berhumus. pompa air harus selalu tersedia tetapi tidak menggenang dan pisang tidak hidup pada tanah yang mengandung garam 0,07%. Didataran rendah sampai pegunungan setinggi 2000 mdpl pisang ambon nangka dan tanduk tumbuh baik sampai ketinggian 1000 m mdpl. Teknik untuk membudidaya pohon pisang tanduk salah satu faktor yang menentukan keberhasilan usaha tani pisang adalah tersedianya bibit yang berkualitas yaitu bibit yang bebas hama dan penyakit serta sehat. selain itu, jumlahnya harus cukup dengan jenis misalnya sesuai dengan yang diinginkan untuk menyediakan bibit pisang dapat memanfaatkan rumpun pisang yang sehat. bisa diperoleh dari tunas anakan, bomber dan bibit yang diperbanyak secara tradisional maupun kultur jaringan teknologi pembibitan dengan kultur jaringan memerlukan biaya investasi awal yang besar sehingga pembibitan secara sederhana dipandang masih layak untuk diterapkan.
Ada 3 cara untuk memperbanyak bibit pisang secara sederhana yaitu memperbanyak dengan anakan, bibit ini berasal dari pemisahan anakan untuk langsung ditanam di kebun setelah bibit anakan dipisahkan harus langsung ditanam. jika terlambat akan meningkatkan serangan hama penggerek dan kematian di kebun. apabila saat tanam kekurangan air dalam waktu yang cukup lama, bibit akan layu dan mati di bagian batangnya. Untuk menghindari kejadian tersebut koma sebelum menanam anakan dipotong 5 cm diatas leher bonggol dan cara menanamnya ditimbun 5 cm di bawah permukaan tanah. cara selanjutnya yaitu memperbanyak dari bibit anakan. bahan yang digunakan adalah anakan pisang yang berdiameter 7 – 12 cm atau tingginya 40 – 150 cm cara membuatnya yaitu pemisahan anakan dari rumpun dilakukan dengan hati – hati menggunakan linggis bonggol dibersihkan dari akar dan tanah yang menempel. rendam dalam air hangat dengan suhu 55 derajat celcius yang telah dicampur fungisida dengan dosis 2 gram per liter air selama 15 menit selanjutnya untuk merangsang munculnya tunas unggul disemai dalam dengan disusun secara berjajar dengan bagian. tumbuhan tetap mengarah ke atas. bila tunas telah tumbuh dan telah mempunyai 1 – 2 lembar daun bonggol diangkat dari timbunan kemudian dibelah searah dari permukaan atas bonggol sampai dasar sebanyak tunas yang tumbuh di tunas hasil belahan disemai di polybag ukuran 20 X 30 cm yang berisi media tanam campuran tanah dan pupuk kandang 1 : 1, setelah berumur 1 bulan bibit dipindahkan ke tempat terbuka perawatan yang utama adalah penyiraman untuk menjaga kelembaban tanah yang dilakukan 2 minggu sekali dengan menggunakan urea 2 gram per liter air dengan cara dikocor. cara lainnya yaitu bonggol dari tanaman yang sudah dipanen, bonggol diangkat dari tanah dengan hati – hati agar mata tunas tidak rusak, bonggol kemudian dipotong ukuran 10 – 10 cm menurut jumlah mata tunas dan bibir setelah ditiriskan kemudian ditanam di polybag ukuran 20 – 30 cm yang berisi media tanah dan pupuk kandang 1 : 1.

local_offerevent_note March 26, 2019

account_box Rizal

Leave a Reply